06 Februari 2015

Chapter #4 - Kitab Kuno Di Ivory Tower


Siomponk.Com - Setelah beberapa saat wanita Warrior itu menemukan buku yang dicarinya. Buku yang dibawanya tebal dan sangat lusuh dengan tulisan "HELL KNIGHT" yang hampir pudar di sampulnya.

"Kiranya buku ini cocok untukku." pikir wanita warrior tersebut. Dia menoleh kearah pemuda itu yang menemukan pemuda tersebut membawa 4 buah kitab.

"Kitab apa saja yang kau bawa itu, banyak sekali..." tanyanya heran.

"Hanya beberapa buku yang kiranya penting buatku." ujar pemuda itu dengan santai.

Wanita warrior itu membaca tulisan di sampul-sampul buku yang dibawa pemuda tersebut.

"NECROMANCER", "SOULTAKER", "SUMMON UNDEAD", "HIDDING".

"Untuk apa buku HIDDING kau bawa? Bukankah itu buku untuk para Assasin...???" tanya wanita itu dengan heran.

"HIDDING adalah ilmu yang sangat berbahaya jika digunakan Assasin, makanya aku bawa pergi agar tak bisa dipelajari. Kita akan lemah jika berhadapan dengan Assasin yang menggunakan ilmu HIDDING. Karena kita bisa dibokong dari belakang tanpa kita sadari keberadaannya." kata pemuda itu dengan nada serius.

"Lebih baik kita segera pulang ke Talking Island, dan merahasiakan hal ini. Kita mempelajari kitab-kitab ini di Eleven Ruins saja." usul pemuda itu.

Maka mereka berdua bergegas pulang, mereka menuju kota Oren dan dilanjutkan ke Talking Island dengan menaiki kuda Horse Mount.

"Siapa namamu..???" tanya wanita warrior itu.
"Orim. Namamu..???" balas bertanya pemuda yang bernama Orim tersebut.
"Vania." jawabnya singkat.

Sesampainya di Talking Island mereka berdua menuju rumah masing-masing dan merahasiakan kejadian di Ivory Tower. Hanya mereka berdua yang tahu.

Hari berganti hari, tahun berganti tahun. Hubungan mereka semakin akrab dan terjalin benih cinta dihati mereka. Kitab-kitab yang mereka bawa dari Ivory Tower mereka pelajari di Eleven Ruins. Suatu tempat bekas tample di Talking Island yang berada dibawah tanah.

Kini Vania menjadi seorang Knight yang kuat dan tangguh. Tidak ada yang tahu jika Vania adalah seorang Hell Knight. Yang mereka tahu Vania adalah seorang Knight handal dan tangguh.

Sedangkan Orim, dia menjadi seorang Wizard yang kuat dengan sihir-sihirnya. Tak ada yang tahu bahwa Orim juga memiliki ilmu sihir type Dark yang sangat mengerikan.

Atas persetujuan dan restu dari High Priest Biotin mereka dinikahkan. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai seorang putri cantik yang diberi nama Vinita. Vinita kecil sangat menyukai tentang ilmu sihir, mirip ayahnya Orim, juga jiwa sosialnya yang besar didapatkannya dari ibunya Vania yang suka membantu orang lain.

Kedua orang tua Vinita memberikan kebebasan kepada anaknya untuk belajar ilmu apa, karena mereka sadar bahwa paksaan terhadap anak itu tidak baik untuk dewasanya kelak. Mereka tak mau anak mereka seperti kedua orang tuanya yang dulunya dipaksa untuk menguasai ilmu tertentu. Vinita menjadi Cleric kecil yang siap membantu siapa saja.

Banyak penduduk Talking Island yang sangat menyukai Vania, terlebih terhadap Vinita karena mereka yang suka membantu siapa saja. Beda halnya dengan Orim, ayah dari Vinita.

Orim sangat dibenci bahkan ditakuti. Karena sifatnya yang tegas, suka sekali terhadap ilmu sihir dan sangat mudah menghantamkan sihirnya kepada orang lain yang tidak disukainya. Pernah suatu ketika Orim mendapat teguran dari High Priest Biotin tentang kelakuannya, Orim menjawabnya dengan santai.

"Kau dengan kedudukanmu yang sekarang sudah pasti enak dihormati dan disanjung, tak tahukan kau sakitnya orang yang tak dihargai dan dihormati setelah kita membantunya. Aku akan melakukan apapun itu yang aku anggap itu benar!" ucapnya lantang didepan High Priest Biotin di Tample Talking Island. Kemudian Orim melangkah keluar tanpa menghiraukan yang lain.

Sejak saat itulah Orim dibenci walau istri dan dan anaknya disukai penduduk Talking Island. Suatu hari Orim mendapat panggilan dari Giran, dari High Priest Maximilian.

"Orim, kau mendapat tugas untuk mendapatkan isi kotak yang berada di dalam Cruma Tower. Isi kotak itu berupa Gem atau batu yang fungsinya untuk mengumpulkan roh dan mengunci didalamnya." kata High Priest Maximilian kepada Orim.

"Baik, dengan siapa aku kesana..???" tanya Orim.

"Kau berangkat sendiri kesana." kembali High Priest Maximilian berkata.

"Hm..., rupanya Priest tua ini mempunyai niat tidak baik padaku. Aku dulu sudah mencoba masuk Cruma Tower, dan disana semua monsternya sangat kuat dan agresif. Untuk mengalahkan 1-2 monster saja aku sampai terluka sana sini." Orim berkata dalam hatinya, menilai dari ucapan dan pancaran sinar mata dari High Priest Maximilian.

"Baik, akan kulakukan itu." Orim membalikkan badan dan akan melangkah keluar Tample.

"Kau tau letak dari Cruma Tower itu Orim..???" tanya High Priest Maximilian dengan nada tak suka.

"Tak perlu kau beritahu, aku sudah tau sebelum perintah ini kau berikan." ucap Orim tanpa berpaling dan meneruskan langkahnya keluar Tample.


(images by screenshot on game)

Sebelum berangkat ke Cruma Tower, Orim pulang ke Talking Island untuk menitipkan pesan pada istrinya. Vania.

"Istriku, aku mendapatkan tugas dari Maximilian untuk berangkat ke Cruma Tower." Orim berkata kepada istrinya. Vania terkejut mendengarnya.

"Cruma Tower, disana bukannya sangat berbahaya dengan monster-monsternya? Dengan siapa kau berangkat?" tanya Vania dengan cemas.

"Aku berangkat sendiri, sepertinya Maximilian ingin menyingkirkanku." kembali kata Orim.

"Kalau begitu, aku ikut denganmu. Aku akan membantumu." kembali Vania berkata.

"Tidak usah, kalau kau ikut lalu siapa yang akan menjaga anak kita Vinita. Kamu tetaplah disini menjaga Vinita."

"Tapi kalau terjadi apa-apa denganmu bagaimana." kata Vania cemas.

"Tidak percayakah kau padaku..? Sudahlah, kau tetap disini dan tenangkan hatimu."

Keesokan harinya Orim berangkat menuju kota Dion, dimana letak Cruma Tower yang masih didalam wilayah kota Dion. Sebelum mencapai Cruma Tower, Orim harus berhadapan dengan beberapa monster dahulu. Monster Undead yang menyeramkan.


(images by screenshot on game)

Sebelum mencapai lantai 2 dimana Box yang dimaksud High Priest Maximilian berada, kondisi Orim sudah sangat lelah dan penuh dengan luka. Penuh perjuangan untuk naik ke lantai 2. Orim mencoba istirahat sebentar untuk memulihkan kekuatannya.

Orim kemudian melanjutkan perjalanannya menuju lantai 2 Cruma Tower. Kembali dia menhadapi monster-monster yang kuat dan agresif. Orim kembali mendapatkan luka tapi tak ada kata menyerah dalam kehidupan Orim. Akhirnya kotak itu berhasil didapatnya kemudian dibawanya ke kota Giran. Kemudian di Tample Giran, didepan High Priest Maximilian kotak tersebut dibuka.

Orim terkejut dan marah mengetahui isi dari kotak tersebut.

"Jadi untuk inikah aku berkorban dan mempertaruhkan nyawa...??? Hanya untuk sebuah Asofe yang tak berharga ini...????" Orim memandang High Priest Maximilian dengan marah meluap.

"Akan kujelaskan semuanya Orim." High Priest Maximilian mencoba menenangkan Orim yang sudah marah.

"Tak perlu penjelasanmu, aku sudah tau apa yang ada dibenakmu. Kau, kalian hanya ingin aku lenyap dari muka bumi ini khan...??? Aku sudah tau bahwa kalian ingin melenyapkanku kemudian menugaskan aku ke Cruma Tower yang penuh dengan bahaya hanya seorang diri. Muka kalian saja yang bersih, tapi hati kalian penuh dengan kepalsuan. Kau tidak layak kuhormati Maximilian...!!!!" teriak Orim dan melancarkan sihirnya yang dipelajari dari kitab yang diperoleh di Ivory Tower.

Sihir Death Spike menghantam dada High Priest Maximilian yang membuat Priest tua itu terjungkal dan pingsan. Seluruh Priest yang berada di Tample Giran langsung mengurung Orim yang sedang marah.

"Kalian ingin mengeroyokku...??? Majulah kalau kalian bisa...!!!" Orim kemudian mengerahkan sihir Mass Curse Gloom sehingga semua yang berada di dekat dengan Orim menderita lemahnya terhadap ilmu sihir. Walaupun Orim dalam keadaan marah, tapi dia selalu memperhitungkan segalanya. Orim bukanlah seorang penyihir biasa, dia merupakan seorang penyihir jenius.

Dia tahu bahwa seorang Priest memiliki ilmu kekebalan terhadap serangan magic atau sihir, sehingga serangan pertama yang dilakukan adalah sihir Mass Curse Gloom yang dilanjutkan dengan sihir Mass Silence yang memblokir agar musuh-musuhnya tidak bisa melakukan serangan magic atau sihir terhadapnya.

Para Priest yang berada di sekeliling Orim pun mulai kalang kabut karena tidak bisa menggunakan sihir mereka untuk melumpuhkan Orim. Dengan santainya Orim melancarkan sihir Death Spike kepada semua Priest yang telah mengurungnya. Semua Priest yang mengurung Orim tergeletak, ada yang pingsan dan luka parah.

"Aku sebenarnya bisa saja membunuh kalian satu persatu, tapi itu tak ada gunanya buatku. Kali ini biar kalian rasakan bagaimana rasanya berhadapan dengan Orim." kemudian Orim mengambil batu Asofe yang berada di dalam kotak yang dibawanya dari Cruma Tower.

Berita mengenai Orim yang sudah menyerang para Priest di kota Giran, sehingga High Priest Maximilian mengalami luka parah cepat tersebar sehingga seluruh Priest diseluruh dunia merasa tidak senang dan ingin melenyapkan Orim dengan alasan Orim sangat berbahaya karena telah mempunyai dan menguasai Ilmu Sihir Hitam.

Beberapa bulan kemudian tersiar berita bahwa seluruh High Priest yang ada di dunia akan mendatangi Talking Island untuk menangkap Orim atau jika perlu memusnahkan Orim. Kabar itu pun sampai juga ke telinga Orim yang dihadapinya dengan tenang.

"Istriku, batu Asofe ini yang aku dapat dari Cruma Tower aku berikan padamu. Di batu ini tertulis namamu dan nama anak kita. Berikan batu ini kelak jika anak kita sudah besar." pesan Orim kepada istrinya.

"Kau akan kemana?" tanya istrinya cemas.

"Aku akan menghadapi mereka yang sudah mengganggu kehidupanku!" ujar Orim tegas.

"Lebih baik kau pergi saja, tidak usah dilayani mereka." bujuk istrinya.

"Kau sudah mengenalku bertahun-tahun, tak pernah ada kata lari ada padaku. Tetap tenanglah disini karena mereka hanya datang untukku, bukan untukmu atau juga anak kita." Orim kemudian pergi kepantai di depan gerbang Talking Island Village untuk menunggu kedatangan para High Priest yang akan menangkapnya.

Tak kurang dari 30 High Priest datang menghadapi Orim yang sudah menunggu di pantai. Kemudian para High Priest tersebut mengurung Orim dalam lingkaran yang besar.

BERSAMBUNG
(nah bagaimana kisah selanjutnya...???? heheheh penasaran nih yee......!!!!)
Previous Post
Next Post

Seorang publisher blogger asal kota Jogjakarta yang mencoba mencari jati dirinya dan yang selalu belajar dalam hidupnya. Sangat menyukai ungkapan
"Jangan lihat dari siapa kebenaran itu datang, tapi lihatlah isi dan makna dari kebenaran itu."

0 komentar:

PERATURAN BERKOMENTAR:

- Gunakan BAHASA yang baik dalam berkomentar
- Dilarang SPAM dalam berkomentar
- Dilarang SARA dan SARU dalam berkomentar
- Dilarang OOT dalam berkomentar

Jika terdapat hal demikian pada komentar anda, kami akan menghapus komentar anda tersebut.