06 Februari 2015

Chapter #5 - Rahasia Di Balik Medusa


Siomponk.Com - Tak kurang dari 30 High Priest datang menghadapi Orim yang sudah menunggu di pantai. Kemudian para High Priest tersebut mengurung Orim dalam lingkaran yang besar.

"Wow..., kalian semua datang ingin mengeroyokku...???" Orim santai menghadapi kurungan 30 High Priest tersebut.

"Orim, dengan beraninya kau menyerang High Priest Maximilian kemarin merupakan sebuah kejahatan. Apa lagi kau menggunakan Ilmu sihir hitam yang merupakan larangan untuk bangsa Human. Kau memang pantas untuk dilenyapkan dari muka bumi!" kata High Priest Orven yang merupakan ketua dari Tample di kota Aden.

"Orim, aku dulu yang sudah menikahkanmu dan menjadi saksi dipernikahanmu. Apakah kau masih berani melawan kami? Menyerahlah kamu untuk kami tangkap Orim." kata High Priest Biotin pemimpin Tample di Talking Island Village.

"Kalian akan menangkapku atau memusnahkanku...??? Hahahaha... dari ucapanmu ini saja sudah terlihat kepalsuanmu. Wajah kalian saja yang terlihat arif dan bijaksana, tak tahunya hati kalian penuh dengan iri dan dendam." ucap Orim dengan santai.

"Nah, kalian ingin maju satu-persatu atau maju semuanya untuk menangkapku." Orim melihat kesamping yang terdapat seekor Elder Wolf. Orim pun menggunakan sihir Death Spike menghantamkannya ke arah Elder Wolf tersebut dan kemudian mengeluarkan Tengkorak Reamated Man.


(images by screenshoot on game)

Seluruh High Priest terkejut melihat mahluk yang dikeluarkan oleh Orim. Sesosok tengkorak yang tinggi dan menyeramkan.

"Kalian 30 orang, aku cukup berdua saja. Atau kalian ingin berkenalan dengan temanku ini? Jangan takut, walau ujudnya tengkorak dan menyeramkan, tapi dia baik. Tidak ada kepalsuan seperti kalian." sindir Orim kepada 30 High Priest tersebut.

"Ternyata benar, kau telah belajar ilmu-ilmu sesat Orim." kata High Priest Maximilian.

"Jangan berkata seperti anak kecil Maximilian. Kau tentu tahu ilmu itu tidak ada yang namanya ilmu sesat atau ilmu putih. Ilmu tetaplah ilmu, tinggal sipemakainya saja untuk apa ilmu itu digunakan." Orim menjawab dengan santai.

"Hati-hati teman, iblis ini pasti merencanakan sesuatu. Serangan pertama pasti akan melemahkan pertahanan kita terhadap sihir." kata High Priest Gregory mengingatkan teman-temannya.

High Priest Gregory merupakan pimpinan dari Tample di kota Goddard.

"Hoho..., rupanya kalian sudah bersiap. Baiklah aku akan memulai tapi kalian salah jika aku akan memulai dengan melemahkan pertahanan kalian. Serangan pertamaku adalah... Hiaaaahhhhh....!!!"

Keluar ledakan kecil beserta asap di seluruh High Priest yang mengurung Orim. Mendadak semua High Priest tersebut diatas kepalanya terdapat lingkaran biru. Itulah sihir Mass Silence sehingga seluruh High Priest yang mengurung Orim tak dapat menggunakan ilmu sihir mereka.

"Hahaha..., silahkan serang aku kapan saja yang kalian mau.!" Orim pun melanjutkan dengan sihir Mass Curse Gloom. Dua ilmu sihir inilah yang selalu dilatih Orim untuk menghadapi musuh-musuh yang banyak jumlahnya.

Kejadian seperti di Tample Giran kemarin pun akhirnya terulang di tepi pantai Talking Island. Saat Orim akan melancarkan sihir yang mematikan Curse Death Link, meloncatlah sesosok bayangan dan berdiri didepan Orim dengan gagahnya.

"Jika kau ingin membunuh mereka Orim, kau harus membunuhku lebih dulu...!" kata wanita itu lantang.

Orim tak berani menatap mata wanita itu, istri yang sangat dicintainya. Ia terlalu mencintai istrinya itu. Apapun akan ia lakukan agar istrinya merasa senang.

"Aku tak bisa menghadapimu, aku tak sanggup..." ujar Orim dengan lirih. Dari sepasang mata Orim keluarlah air mata yang terus turun membasahi pipinya.

"Orim..., musnahlah kau...!!!" rupanya High Priest Maximilian telah terbebas lebih dulu dari pengaruh Mass Silence, sehingga bisa melancarkan serangan kepada Orim.

Orim terlempar kedalam laut, walaupun tubuhnya tidak mengalami luka berat karena efek serangan dari High Priest Maximilian dibagikan kepada Tengkorak Reamated Man dengan ilmu Transfer Paint.

"Jangaaaannnn....!!!!" istrinya Orim Vania berteriak mengejar dimana Orim terlempar kedalam lautan.

Orim hanyut terbawa ombak dan hilang dilautan. Secara perlahan Tengkorak Reamated Man pun ikut lenyap dari pandangan.

Vania menangis di tepi pantai, hanya ada penyesalan kenapa sampai harus ada kejadian seperti ini. Sesosok anak kecil keluar dari Talking Island Village dengan berlari menghampiri Vania yang sedang menangis tersedu-sedu ditepi pantai.

"Ibu..., ibu kenapa? Kenapa menangis ibu...??? Apakah mereka mengganggu ibu..??? anak perempuan kecil itu kemudian berbalik kearah para High Priest tersebut dengan pandangan mata marah.

"Ayo, siapa yang sudah mengganggu ibuku. Lawan aku anaknya...!!!" ucapnya dengan lantang tanpa ada rasa takut.

"Tak ada yang mengganggu ibumu nak." kata High Priest Maximilian.

"Benar Vinita, tidak ada yang mengganggu ibumu. Kami tadi hanya mengusir iblis siluman yang mau masuk desa kita ini Vinita." kata High Priest Biotin yang sudah mengenal baik Vinita.

"Mari kita pulang, ajak ibumu juga Vinita!" ujar High Priest Biotin kepada Vinita.

Saat itulah Vinita, gadis kecil yang cantik tak dapat kembali bertemu dengan ayahnya Orim. Saat Vinita menanyakan kepada ibunya dimanakah ayahnya, selalu dijawab sedang menjalankan tugas berat dan sangat jauh.

Tahun demi tahun telah berlalu, begitu pula monster-monsternya terus bertambah. Monster-monster tersebut ibarat binatang buas yang siap menyerang siapa saja yang lewat. Peristiwa tentang Orim si penyihir Jenius yang berani melawan 30 High Priest diseluruh dunia sedikit-demi sedikit menghilang. Hal itu memang ditutup-tutupi oleh para High Priest agar tak membuatnya malu karena telah dikalahkan oleh seorang penyihir yang tanpa kedudukan dan class.

Suatu ketika di Talking Island di pagi buta, datanglah seseoarang dengan jubahnya yang besar sehingga wajahnya tak terlihat. Orang itu terus berjalan sampai dirumah kediaman Vania, istri dari Orim. Vania heran karena sepagi ini mendapatkan tamu, biasanya tamu akan datang dan meminta pertolongannya disaat siang hari.


(images by google images)

Ketika orang tersebut membuka kerudung jubahnya terlihatlan seraut wajah yang dirindukannya selama ini. Orim telah kembali. Vania langsung memeluk Orim penuh kerinduan, ada setitik air mata yang keluar dari mata beningnya.

"Dimana kau selama ini, dan apa yang kau lakukan. Tubuhmu sekarang agak kurus begini..." ucap Vania khawatir.

"Waktu aku terlempar kedalam laut, aku tak sadarkan diri. Tahu-tahu aku berada di dalam kapal di Giran Harbor. Mungkin ada seseorang yang berusaha menolongku." Orim menceritakan saat ia selamat dari gulungan ombak lautan.

"Aku kemari hanya ingin mengambil kitab yang pernah aku bawa dari Ivory Tower itu, selanjutnya aku akan pergi." kata Orim kembali.

"Kenapa kau harus pergi lagi..???" ucap Vania yang tak rela jika ditinggalkan kembali.

"Ini demi keselamatanmu, juga anak kita. Aku terpaksa meninggalkanmu. Bukankah kau juga merasakan jika saat ini pun kau dan juga anak kita sedang diawasi oleh orang suruhan para High Priest itu.?" kata Orim.

"Iya, benar. Aku pun merasakannya ada yang sedang mengawasi aku juga Vinita anak kita. Mungkin mereka takut tentang Ilmu sihir yang kau kuasai. Jangan-jangan anak kita juga menguasainya, makanya mereka mengawasiku juga Vinita." kata Vania membenarkan ucapan Orim.

"Nah agar kehidupanmu juga anak kita aman, aku akan pergi. Mungkin tak akan kembali. Maaf kan aku." Orim mencium kedua tangan istrinya. Air mata menetes di kedua mata Orim dan Vania.

Orim pun kemudian bergegas pergi ke Talking Island Harbor sambil membawa 4 buah kitab yang diperolehnya dulu di Ivory Tower. Dia memilih perjalanan melalui air daripada di darat.

Kemungkinan bertemu dengan orang lebih sedikit jika melalui jalur air. Saat itulah Orim melakukan pengembaraan secara sembunyi-sembunyi.

Kembali tahun demi tahun terlewati. Vania istri dari Orim akibat ditinggalkan suami tercintanya mengalami kesehatannya terganggu sehingga akhirnya Vania pun meninggal. Vinita sangat sedih sekali ibunya telah meninggal. Harapan satu-satunya hanyalah ayahnya Orim yang entah kemana. Sebelum meninggal dunia. Vania memberikan batu Asofe yang terdapa ukiran namanya dan dan juga nama Vinita. Batu yang diperoleh di Cruma Tower saat Orim mendapat tugas dari High Priest Maximilian (baca chapter #3 dan #4).

BERSAMBUNG
Previous Post
Next Post

Seorang publisher blogger asal kota Jogjakarta yang mencoba mencari jati dirinya dan yang selalu belajar dalam hidupnya. Sangat menyukai ungkapan
"Jangan lihat dari siapa kebenaran itu datang, tapi lihatlah isi dan makna dari kebenaran itu."

0 komentar:

PERATURAN BERKOMENTAR:

- Gunakan BAHASA yang baik dalam berkomentar
- Dilarang SPAM dalam berkomentar
- Dilarang SARA dan SARU dalam berkomentar
- Dilarang OOT dalam berkomentar

Jika terdapat hal demikian pada komentar anda, kami akan menghapus komentar anda tersebut.